Bandara Jepang, Wisata Sejarah dan Wisata Bahari di Kecamatan Subi.
Kantor Camat kecamatan Subi

Secara kultural, masyarakat subi besar maupun subi kecil sebagian besar adalah masyarakat melayu dan sebagian kecil pendatang yang ada dan pada umumnya masyarakatnya berdialek melayu. Di Kecamatan Subi masyarakatnya masih relatif menjaga kebudayaannya hal ini dapat dilihat masih terjaganya beberapa cagar budaya.

Bagian luar Keramat Darah Putih
Bagian dalam Keramat Darah Putih

Di desa Meliah terdapat Sebuah makam Keramat yang biasa disebut oleh masyarakat sekitar dengan nama Makam Keramat Darah Putih. Makam tersebut dikelilingi dengan pagar yang berwarna putih oleh pemerintah desa. Asal cerita makan keramat putih bermula dari sorang Syeh Abdul Rahman Bin Somad yang berasal dari Sambas (Kalbar) keturunan Bugis. Beliau datang ke Pulau Subi dengan keluarganya untuk mensyiarkan Agama Islam. Cerita yang berkembang saat ini kematian beliau adalah karena di bunuh oleh bajak laut, namun juga ada cerita lainnya bahwa beliau dibunuh oleh orang asli Subi karena tak senang dengan ajaran beliau. Mendapat informasi tersebut beliau bersedia dibunuh tapi dengan syarat setelah beliau sholat subuh, namun karena takut diketahui orang karena pagi sudah menjelang akhirnya beliau dibunuh saat sedang ambil wudhu untuk sholat subuh. Darahnya berceceran menjadi batu berwarna putih. Oleh keluarganya semula jenazah beliau akan dimakamkan rumahnya, namun ada salah satu keluarganya bermimpi bahwa jenazah dimakamkan di dekat surau itu sebelum pembunuhan yang terjadi pada Syeh abdul Rahman Bin Somad. Selain dari makam beliau ada juga makam lainnya yang tak lain adalah makam anaknya.

Makam Siti Balqish
Makam Siti Balqish

Terdapat juga makan Siti Balqis di Subi Besar tepatnya di Desa Subi Besar Timur, asal cerita Siti Balqis, ia adalah seorang gadis kampung Tanah Merah yang sangat cantik dan memiliki kulit yang putih bersih. Jika beliau minum air putih, nampak aliran air itu masuk ketubuhnya selain itu beliau juga memiliki ilmu hebat yang bisa menjelma menjadi orang tua ataupun dapat menjelma menjadi binatang dan masih banyak lagi jelmaan dari beliau. Dengan kecantikannya itulah pemuda berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dengan sayembara siapa yang kuat dan bisa masuk kedalam rumah atau semacam istana Siti Balqis, dialah yang dapat memiliki Siti Balqis, sehingga mereka saling bunuh membunuh. Sementara abang siti Balqis sembunyi di sebalik pintu masuk rumah/istana Siti Balqis. Setiap pemuda yang masuk di bunuh oleh abangnya sehingga banyak yang mati dan habis, terakhir abangnya bunuh diri dan tinggallah Siti Balqis Sendirian. Sehingga ada Pantun yang di buat orang pada pada masa itu berbunyi :

Tanah merah tebing terbis

Tanam Niuk berlapis-lapis

Urang tanah merah mati habis

Tinggallah seorang Siti Balqis.        

Tuk Lile Majenun

Selain itu, juga terdapat sebuah peninggalan bersejarah yang dikenal dengan nama Tuk Lile Majenun (sepasang meriam kuno). Meriam ini masih tersimpan dirumah salah seorang warga di Subi Kecil yang diikat disebuah tiang bagian tengah rumah. Rumah tersebut merupakan rumah warisan yang masih tradisional dari nenek moyang dan meriam tersebut sudah ada dirumah tersebut sejak zaman dahulu. Dua meriam ini berasal dari Portugis dengan ukuran panjang +1 meter dan +60 cm. Meriam yang besar diberi nama Tuk Lile sedangkan merim kecil diberi nama Majenun. Menariknya, sepasang meriam ini tidak bisa dipindahkan ditempatnya, jika dipindahkan maka akan terjadi bencana alam seperti hujan dan badai. Dua nama tersebut digabungkan menjadi nama meriam tersebut, yaitu Tuk Lile Majenun.

 

Lokasi bandara peninggalan Jepang

Ada juga peninggalan Bandar Udara Jepang di Desa Subi yang kini sudah menjadi semak belukar, berbagai tumbuhan hidup dilokasi ini seperti ilalang, rumput dan pohon. Semasa penjajahan Jepang di Indonesia, Jepang yang pernah singgah di Subi dan berencana mendirikan lapangan udara untuk kebutuhan logistik dan bandara militernya tentang Jepang di Subi. Pembukaan lahan/pembangunan bandara tersebut menggunakan tenaga pekerjaan masyarakat Subi sementara untuk pengawasan pekerja (istilah mandor) di ambil dari tenaga kerja dari Malaysia Timur Kucing Serawak. Nama mandor pekerja Hasan. Namun pekerjaan Bandara Jepang tersebut tidak selesai dikarenakan pasukan NICA(Netherland Indies Civil Administration) membantu Indonesia menyerang Jepang dan peristiwa bom Naga Saki dan Hiroshima, sehingga tentara Jepang banyak pulang ke Jepang dari Subi/Indonesia.

Hasan, mandor pembangunan bandara Jepang di Kecamatan Subi.
Pantai Lingkung

Satu Pantai yang ada di Kecamatan Subi adalah Pantai Air Lingkung, yang terletak di Desa Terayak dan tidaklah terlalu jauh dari pusat pemerintahan, sebutan Pantai Air Lingkung bagi masyarakat Subi sendiri dikarenakan bentuk pantainya yang memang melingkung bila dilihat dari kejauhan. Pantai yang satu ini selain masih asri juga dapat memberikan keindahan alam yang sangat mempesona, keindahan panta ini dapat dilihat dari letak Susana pantai, airnya yang biru dan pasir putih yang bersih dapat menjadikan pantai ini memiliki potensi wisata untuk dikunjungi. Sesekali kita juga dapat melihat rutinitas nelayan dari kejauhan yang sedang berkarang bila kita sedang berada di pantai Lingkung ini. Untuk mengunjungi pantai ini  bisa pagi maupun sore hari karena pantai ini tidaklah terlalu panas bila kita berada disana, deretan pohon kelapa dan beberapa pohon bakau yang sudah besar terdapat di pantai itu sendiri ditambah dengan bentuk Pantainya yang memang melengkung sangaat memungkinkan untuk kita berteduh meskipun ketika kita berada dipantai sekalipun, Pantai ini memang sedikit unik untuk dikunjungi hanya saja makanan / snakc dan minuman disarankan untuk dibawa karena  tidak terdapat warung disekitar pantai.

Jembatan penghubung Subi Kecil dan Subi Besar

Kenangan yang dapat kita abadikan sebelum meninggalkan pantai yang satu ini adalah bersua foto pada rimbunan pohon bakau yang terlihat seperti gundukan pulau-pulau kecil bila foto kita abadikan sebagai kenangan.

Pantai Meliah

Di Kecamatan Subi juga terdapat Pantai yang tidak terlalu jauh dengan pusat pemerintahannya, letaknya masih di Pulau Subi Kecil dan pantai ini biasa disebut oleh masyarakat deengan nama Pantai Air Meliah karena memang letaknya di Desa Meliah. Namun pantai Meliah ini tidak menjadi favorit bagi para remaja di Kecamatan Subi sendiri, karena pantai ini tidak mempunyai pantai dan pasir yang panjang seperti yang ada di Pantai Melingkung pantainya hanya terlihat pada saat air sedang surut dan akan hilang dari pandangan kita ketika air sedang pasang. Hanya saja keindahan Pantai Meliah ini terletak pada deretan hutan bakau atau hutan mangrove yang ada di bibir pantainya dan sebuah jembatan panjang untuk sekedar melihat terbenamnya matahari sambil menikmati snack atau minuman yang memang harus kita bawa ketika kita berkunjung ke Pantai Meliah ini. Hanya saja jembatan panjang ini sering digunakan oleh para nelayan untuk tambat perahu/kapal laut nelayan ketika pulang dari memancing, meskipun begitu deretan perahu dan kapal-kapal nelayan yang ada dan tersusun dengan rapi juga terlihat indah dan mempesona seperti terlihat sebuah kampung nelayan kecil bila dilihat dari ujung jembatannya.

Selain dari 2 pantai diatas di Pulau Subi besar juga terdapat pantai lain namun lokasi atau letaknya terpisah dari pulau Subi sendiri dan akses menuju kesana harus menyewa perahu/kapal nelayan setempat yang cukup jauh untuk kita sampai di lokasi tujuan.