Tradisi Do’a Selamat Bulan Safar di Kecamatan Pulau Laut.

Masyarakat Natuna meyakini bahwa pada bulan Safar sering terjadi hal yang berbahaya atau biasa disebut Na’as. Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah. Yang dimaksud Na’as adalah segala hal yang menimbulan kecelakaan ataupun cedera. Misalnya tenggelam, jatuh, terluka dan sebagainya. Memang bencana selalu datang kapan saja, namun oleh warga Natuna menganggap bahwa ketika bencana terjadi dibulan Safar akan dapat berdampak jauh lebih parah atau mengerikan dibandingkan kecelakaan pada bulan lainnya.

Warga sedang mendengar tausyiah agama tentang maknsa dari Do’a Buulan Safar.(Foto:M. Robi)

Oleh sebab itu, diawal bulan Safar dilaksanakan tradisi Do’a Selamat. Tujuannya adalah berdoa serta memohon kepala Allah SWT agar terhindar dari segala bentuk bencana dan malapetaka yang menimpa warga pada bulan Safar. Biasanya juga ada tradisi mandi safar, yaitu terdapat secarik kertas putih bertuliskan hurup Arab. Lalu direndam dalam bak mandi atau ember untuk gunakan ketika mandi. Tulisan ini biasanya dibuat oleh ulama atau tokoh agama setempat.

Tradisi ini masih diperingati dan dilestraikan oleh masyarakat Kecamatan Pulau Laut, tepatnya di Desa Air Payang. Dilaksanakan selama 3 hari berturut-berturut dan ditempat yang berbeda-beda. Biasanya dimulai sekitar jam 16.00 WIB. Hari pertama tepatnya pada hari ke – 7 (25 Sepetember 2020)  bulan Safar kegiatan dilaksanakan di lapangan bola, mengingat lapangan sepak bola tersedia lokasi yang luas sehingga seluruh masyarakat bisa berkumpul.

Di hari pertama ini warga membawa makanan yang ciri khasnya dibungkus dengan daun pisang. Dalam daun pisang tersebut terdapat nasi lemak, ikan goreng, sambal mentah dan inti kelapa. Kemasan ini khusus dibuat hanya untuk memperingati  tradisi Do’a Selamat dibulan Safar. Ketika instruksi untuk membuka makanan disampaikan biasanya warga aka saling bertukar makanan ataupun lauk, meskipun dengan jenis lauk yang sama.

Makakan yang dibawa ketika memperingati Do’a Selamat bulan Safar.(Foto:M. Robi)

Hari kedua, tepatnya tanggal 8 bulan Safar (26 September 2020) dilaksanakan di Mesjid. Dengan makanan dan rangkaian do’a yang sama. Warga biasanya berkumpul didalam dan dihalaman mesjid.

Masyarakat berkumpul di Mesjid untuk melaksanakan Do’a Selamat Bulan Safar.(Foto:M. Robi)

Namun pada hari ke tiga atau tanggal 9 bulan Safar(27 September 2020) kegiatan dilaksanakan di pelabuhan atau dipinggir pantai. Dihari terakhir  ini jenis makanan yang dibawa adalah ketupat, namun inti kelapa masih tetap disajikan. Ada sedikit berbeda dengan hari sebelumnya. Di hari ke tiga ini tersedia  air tolak bala  yang sudah di isi kedalam tong. Namun air tersebut baru diambil setelah ulama atau pemimpin do’a membaca doa tolak bala dalam tong tersebut. Yang menjadi uniknya adalah ketika air sudah dibacakan do’a tolak bala, maka warga akan berebut mengambil air tolak bala tersebut, hingga basah-basah. Biasanya menggunakan botol minum yang dibawa dari rumah.

Pemuda Kecamatan Pulau Laut yang ikut pada pringatan Do’a Bulan Safar.(Foto: Amzahrial)

Air tolak bala tersebut biasanya untuk diminum, dibasuhkan pada kedua lengan dan kedua kaki serta dibasuh pada bagian muka atau dalam bahasa daerahnya Cuas. Semoga tradisi ini terus dilestarikan dan tidak hilang ditelan zaman.

Close Menu