Tari Topeng Natuna

Natuna memiliki sejumlah kesenian tradisi yang terancam punah. Ada Mendu, Langlang Buana dan ada pula Tari Topeng. Berbeda dengan Mendu dan Langlang Buana yang sudah ditetapkan jadi warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia, Tari Topeng masih terasa asing bagi masyarakat Provinsi Kepri. Wajar sebab kesenian ini hanya ada di Desa Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Natuna.

Tari Topeng berbeda dengan Gubang. Kesenian ini fungsinya untuk pengobatan orang sakit. Dalam tampilan ada tiga pola gerak dalam Tari Topeng, yakni tari tangan, tari kain dan tari piring. Penarinya bisa lima atau enam orang. Sementara pemain musiknya terdiri lima orang. Satu orang memainkan limpung, dua orang gong dan dua orang gendang.

Ada berbagai versi terkait keberadaan Tari Topeng. Versi pertama, menurut Darmawan, konon dulunyaada seorang raja yang memerintah yang memiliki seorang anak gadis yang cantik. Anak itu dipingit, tak boleh keluar istana tanpa dikawal. Suatu kali anak gadis itu jatuh sakit dan raja pusing kepala memikirkan cara mengobati anaknya. Dicarilah orang pintar, tapi tak ada yang mampu mengobati. Tak lama raja memperoleh informasi ada kesenian yang mampu mengobati. Jumlah pemainnya 40 orang, namun mereka malu masuk ke istana karena kondisinya hanya orang biasa. Disepakati kesenian itu tampil ke istana dan memainkan Tari Topeng. Tiga gerakan dalam Tari Topeng dimainkan mulai tari tangan, tari kain dan tari piring. Barulah saat tari piring, anak raa itu siuman dan
sadarkan diri. Ia sembuh dari sakitnya.
“Dalam rombongan Tari Topeng ada satu orang yang pemainnya nakal. Ia memakai topeng tapi tak ikut main. Ia hanya memantau saat tarian ditampilkan,”kata Darmawan.

Versi lain menyebutkan, Tari Topeng ditampilkan saat anak raja sakit dan tak ada yang mampu menyembuhkan. Mereka yang menyembuhkan adalah orang bunian. Proses pengobatan lewat tarian dan penarinya memakai topeng.

Close Menu