Permainan Tradisional Pangkak Gasing Natuna.

Pangkak Gasing Natuna atau lebih dikenal dengan sebutan Permainan Gasing Natuna merupakan salah satu permainan tradisional warga Natuna. Gasing biasanya terbuat dari kayu yang keras seperti Kayu Pelawan(Tristaniopsis merguensis Grift) dan Kayu Sentigi(Pemphis). Selain itu juga ada tali gasing yang juga terbuat dari kulit kayu, salah satunya kulit pohon Melinjo(Gnetum gnemon Linn) yang diolah hingga menjadi tali khusus.

Permainan gasing biasanya dilakukan oleh kaum lelaki, baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Tersebar di Pulau Bunguran maupun diluar. Seperti Serasan, Pulau Laut, Midai, Subi, Pulau Tiga, Kelarek, Sedanau mengenal permaian gasing.

Dalam permainan gasing biasanya terdapat 2 tim yang saling merebut kemenangan. Ada aturan-aturan dan tahap yang harus diikuti, yakni:
1. Betendin 

Peserta memutar gasing ditiang amban.

Peserta memutar gasingnya ditiang amban secara bersamaan. Setelah gasing diputar maka pemain segera menyelamatkan gasingnya dengan cara meletakan gasing diatas kaca agar gasing bisa berputar lebih lama. Gasing berputar paling lama berhak untuk menyerang gasing lawan dengan cara memangkak.
2. Pangkak Gasing

Salah satu peserta memangkak gasing lawan.

Tim yang menjadi pemenang ketika bertedin akan memangkak gasing lawan. Tidak jarang gasing tersebut terpecah belah karena benturan pangkak.
3. Ber’ulet

Peserta sedang ber’ulet menentukan pemenang.

Setelah pangkak dilakukan maka pemain kembali menyelamat gasing agar tetap beputar meskipun sudah diserang/pangkak oleh lawan. Nah pada tahap ini akan menentukan poin, gasing tim mana yang paling banyak bertahan. Apabila gasing pecah (slide 5) ada point khusus yang diperoleh.
(DT)