Penggiat Budaya Natuna Mentaja Kegiatan Dulong Budaye.

Para penggiat budaya di Natuna yang tergabung dalam tiga komunitas mentaja kegiatan budaya bertajuk Dulong Budaye bertempat di Aula SMAN 2 Bunguran Timur. Kompasbenua, Natunasastra dan UKM PIKM STAI Natuna berkolaborasi bersama menggelar acara budaya dengan tema “Kelas Pantun” tersebut.

Ketua panitia Pelaksana, Wahyudi mengatakan, acara Dulong Budaye dengan tema Kelas Pantun ini merupakan acara pertama yang digelar, yang nantinya insya Allah akan ada acara Dulong Budaye berikutnya dengan tema yang berbeda pula.

“Dulong itu berasal dari dialek bahasa yang digunakan di sebagian wilayah Natuna Barat dan Natuna Selatan yang artinya “paket makanan”, untuk wilayah Bunguran Utara dan sebagian wilayah di Bunguran Timur lama terdapat sedikit perbedaan dialek. Dulong ini biasa disajikan saat acara besar warga melayu, biasanya berisi makanan berat, makanan ringan serta minuman yang disajikan didalam talam bulat dan ditutup dengan tudung saji yang terbuat dari pandan ataupun mengkuang. Jika berkurang maka bukan dulong namanya. Itulah dasar kami menamai acara ini, yang berharap nantinya “paket-paket” budaya yang lain akan menyusul untuk kami kenalkan kepada generasi muda di Natuna. Untuk saat ini temanya pantun, semoga berikutnya bisa seni Suluk, Silat, dan lain-lain, insya Allah,” jelas Wahyudi.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna, Hadisun yang turut hadir pada acara tersebut mengatakan bahwa kegiatan Dulong Budaye ini adalah salah satu bentuk kepedulian komunitas budaya yang terus tumbuh di Natuna, oleh karenya pemerintah akan terus memberikan dukungan dan fasilitasi sebagai bentuk sinergitas antara pemerintah, komunitas, masayarakat dan para penggiat budaya dalam melestarikan kebudayaan sebab kebudayaan akan dapat lestari jika kita bersama-sama melindungi, meberikan pembinaan, membuat program-program pengembangan hingga dapat dimanfaatkan untuk berbegai kepentingan. Demikian pula sebaliknya kebudayaan akan terkikis, hilang dan punah jika tidak dilindungi. Hadisun juga berharap agar kegiatan ini tidak hanya terhenti di sini, pantun yang saat ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda bersama Indonesia dan Malaysia diharapkan dapat secara bertahap lestari ditengah masyarakat Natuna.

Peserta Dulong Budaye dengan tema Kelas Pantun ini terdiri dari siswa-siswi tingkat SMA sederajat yang dan beberapa komunitas yang ada di Natuna. Sedangkan materi diberikan oleh Ellyzan Katan, penggiat pantun di Kabupaten Natuna. Selain siswa-siswi dan komunitas yang hadir sebagai peserta, acara ini juga dihadiri oleh Ketua STAI Natuna, perwakilan Kantor Bahasa Kepri, Dema STAI Natuna, dan pembina GenRe Natuna.