Muhibbah Ramadhan Tanjung Kumbik Utara

Pada masa dulu, enam bulan menjelang Ramadan, setiap desa mempersiapkan kafilah yang nantinya akan menjadi perwakilan dalam Muhibbah Ramadan pada masa itu. Hal itu dilakukan untuk menampilkan utusan-utusan terbaik dari setiap desa. Selain itu, masyarakat menyambut gembira dengan datangnya muhibbah Ramadan. Pasalnya, kegiatan kunjung-mengunjungi tersebut akan mempertemukan handai tolan dan sanak saudara yang tempat tinggalnya dipisahkan oleh laut.

Kesenian Marawis untuk menyambut kedatangan peserta muhibah dari seberang.

Hubungan antarpulau menjadi semakin akrab dan sebagai sarana mengakrabkan antar sesama penduduk kepulauan. Jadi bukan hanya sekadar mengikuti kegiatan Muhibbah Ramadan semata. Barangkali rasa dan hasrat ingin bertemu tidak sama dengan mereka yang berada di satu tanah, seperti pulau Bunguran.

Peserta Muhibbah disambut dengan tradisi pakaian melayu atau muslim.

Muhibbah Ramadan diperkirakan sudah hadir sebelum tahun 1970-an. Dapat dipastikan usianya sudah mencapai 50 tahun dan dapat diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Kabupaten Natuna.

Peserta Muhibbah dari Pulau Seberang.

Awalnya kegiatan muhibbah Ramadan berlangsung di beberapa wilayah seperti Sedanau dan Ranai. Seiring berjalannya waktu, kegiatan kunjungan muhibbah Ramadan mulai mengalami perubahan. Muhibbah atau juga biasa dikenal safari Ramadan lebih dekat maknanya pada kunjungan Ramadan ke suatu tempat/masjid yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Namun hal itu tidak terjadi di Kecamatan Pulau Tiga dan Pulau Tiga Barat yang masih melestarikan muhibbah Ramadan seperti yang dilakukan orang-orang mereka terdahulu.