Mengenal Kesenian Alu/Tingkah Alu Natuna.

Alu merupakan kesenian tradisional masyarakat Natuna yang sudah ada sejak zaman penjajahan dimasa lampau. Pada masa lalu hampir diseluruh pelosok penjuru Natuna setiap hari terdengar bunyi lesung yang dibunyikan oleh ibu-ibu atau para bapak saat menumpuk hasil ladang seperti padi, jagung dan rempah-rempah masakan. Kegiatan menumbuk hasil ladang dilakukan secara bersama-sama dan disela-sela menumbuk hasil ladang mereka saling berbagi cerita disertai canda tawa tentang pengalaman hidup. Seiring berjalannya waktu kegiatan lesung – alu digantikan dengan alat-alat mesin canggih untuk menggiling padi dan hasil pangan lainnya. Untuk mempertahankan kegiatan lesung – alu masyarakat setempat mengubah fungsi lesung – alu yang awalnya dipergunakan untuk menumbuk padi sekarang menjadi kesenian tradisi daerah.

Salah satu seniman Natuna yang sampai saat ini masih melestarikan tradisi kesenian Lesung-Alu ini adalah Pak Sahminan atau yang sering dipanggil dengan sebutan Aki. Aki adalah lelaki paruhbaya yang masih aktif memainkan kesenian Lesung – Alu ini. Aki lahir di Desa Ceruk pada tahun 1962. Dengan usianya kini yang telah menginjak 55 tahun, beliau juga memiliki kelompok kesenian alu turun temurun dari keluarganya yang bertempat di Desa Ceruk, Bunguran Timur Laut. Beliau meneruskan kesenian alu ini pada tahun 1980-an dan anggota kelompok kesenian alu ini berasal dari anggota keluarga beliau. Menurut Pak Sahminan, kesenian alu harus terus dilestarikan sampai kapanpun, oleh sebab itu beliau mengambil anggota kelompok alu yang berasal dari keluarganya agar lebih mudah meneruskannya.Kesenian alu yang dikelola aki kini telah dikenal di segala penjuru Natuna, bahkan kelompok kesenian alu yang berasal dari Desa Ceruk ini sering tampil di Kota Ranai pada saat hari-hari besar dan juga pernah tampil sampai ke provinsi. Meskipun telah dianggap terkenal, kesenian alu di Natuna ini belum banyak masyarakat yang mengetahuinya bahkan belum mengenalnya. Ini disebabkan karena kurangnya pengenalan masyarakat Natuna tentang kesenian alu ini dan kesenian alu ini juga jarang tampil didepan umum, kesenian ini hanya tampil ketika ada perayaan atau ketika pejabat tinggi daerah setempat memanggil kelompok seniman alu ini.Menurut penuturan Pak Sahminan, kesenian Lesung-Alu ini terbentuk, bermula dari pesta panen rakyat dimasa lampau. Kesenian ini juga merupakan suatu gambaran suka cita masyarakat pada zaman dahulu atas keberhasilan memanen padi para petani. Selain itu, bermain alu pada zaman sekarang telah dipergunakan untuk mengisi hari-hari besar seperti perayaan atau bahkan hanya sekedar dimainkan sebagai hiburan.
Terbatasnya kegiatan yang bisa mempererat talisilaturahmi dimasa itu, menyebabkan, munculnya sebuah ide untuk menciptakan sebuah kesenian yang bisa mempersatukan seluruh masyarakat untuk saling bahu membahu dalam permainan kesenian alu ini khususnya pada waktu memanen padi. Oleh sebab itulah dalam permainan lesung-alu ini dibutuhkan 7 orang pemain, yaitu 3 orang dibagian dalam dan 4 orang dibagian luar. Hasil rangkaian suara dalam permainan lesung dan alu ini diambil dari suara kicauan burung, sehingga dalam permainan ini lebih identik dengan kicauan burung.
Alu adalah alat untuk menumbuk padi yang dibuat dari kayu. Bahan untuk membuat alu yaitu Kayu Ulin atau Belien dalam bahasa setempat (di Ceruk). Alu berbentuk kepalanya (bawah persegi empat, enam, atau delapan). Tetapi ukurannya lebih kecil dari bagian kepala. Sedangkan,Lesung adalah dasaran penumbuk padi yang ukurannya besar, berbentuk balok persegi panjang yang bagian tengahnya dicekungi cukup dalam. Lesungberbentuk bulat dan diberi lobang tempat padi, pada bagian atasnya ukurannya tidak sama.
Perbedaan ukuran ini menjadi tangga nada, kalau lesung itu dibunyikan (di tumbuk ke lesung). Warna dan ragam hias mengenai warna pada lesung adalah menurut warna asli yang ada pada bahan kayu tersebut. Lesung tidak perlu di cat, karena apabila dicat ada mengubah nada yang akan keluar dari lesung dan alu tersebut. Alu dan lesung terkandung beberapa lambang dan makna:
1. Hakikat alu adalah kemaluan laki-laki.
2. Hakikat lesung adalah kemaluan perempuan.
3. Batang alu yang bulat adalah batang kemaluan laki-laki.
Kepala dan bentuk (pangkal dan ujung) alu yang persegi mengandung makna:
1. Segi empat, empat penjuru mata angin.
2. Segi enam, enam penjuru mata angin.
3. Segi delapan, delapan penjuru mata angin.
Dalam memilih bahan harus dipilih kayu ulin atau belien. Kayu itu haruslah yang sudah tua dan tidak ada cacatnya.

Cara Pembuatan Lesung-Alu
Menurut Pak Sahminan cara membuat lesung-alu, adalah menebang pohon untuk mendapatkan kayu yang sesuai, kemudian kayu tersebut dibelah-belah menjadi balok dengan ukuran rata-rata 8 cm dan panjang 3 cm. Pekerjaan berikutnya adalah membakal, yakni membuat bentuk dasar dari lesung. Untuk lesungnya dibuat bakal sebesar pohon kelapa dengan ukuran rata-rata penampang 30 cm dan tinggi 45 cm. Setelah selesai membakal, kemudian diteruskan dengan membuat lesung dan alu menurut ukuran dan bentuk sebenarnya.Alu dibuat sebanyak tujuh batang dengan ukuran yang berbeda. Ketujuh alu tersebut juga mempunyai nama-nama tersendiri seperti Tum, Gan, Tau, Ginja, Nyangde, Lugom, dan Lunuk. Selisih alu yang paling kecil dengan yang paling besar sekitar 50 cm. Perbedaan besar persegi antara satu dengan yang lainnya antara 0,5 cm – 1 cm.

Fungsi Lesung-Alu
Lesung-alu dulu berfungsi untuk menyambut panen padi, agar masyarakat lebih bersemangat dan kompak. Tetapi, seiring berjalannya waktu, sekarang lesung-alu hanya digunakan sebagai hiburan untuk mengisi hari-hari besar. Permainan lesung-alu banyak yang menyukainya baik dari kalangan muda maupun tua, mereka ikut serta untuk memainkannya.

Cara Memainkan Lesung-Alu
Lesung-alu dimainkan oleh 7 (tujuh) orang yang masing-masing memegang sebuah lesung kemudian menumbukkannya ke dalam lubang lesung dan ada yang hanya menumbuk dibibir lesung.3 orang menumbuk ke dalam lubang lesung dan 4 orang menumbuk dibibir lesung, baik dilakukan oleh laki-laki atau perempuan. Yang harus dikuasai adalah tahu penempatan dan menumbuk lesungnya, supaya lesung tidak beradu dan serasi bunyinya. Kelompok bermain yang sudah berpengalaman otomatis akan tahu dapat gilirannya dan ia tahu berapa keras hentakkan yang harus dilakukan sehingga serasi dengan hentakkan yang lainnya.Dari besar kecilnya lesung serta dari tempat menumbukkan lesung itulah keluar bunyi serasi, semakin mahir bunyi mereka semakin merdu bunyi hentakan lesung itu. Pekerjaan itu dilakukan bergilir. Biasanya permainan lesung dan alu dimainkan oleh lelaki sama lelaki, perempuan sama perempuan tapi bisa juga campuran laki-laki dan perempuan.

Penulis:

Sasangka Adi Nugraha, S.S
Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau