Tingkah Alu di Natuna

Dahulu pada saat musim panen dan menuai padi, datanglah saat-saat yang ditunggu da amat menyenangkan. Sebagian dari hasil panennya disimpan dilumbung dan sebagiannya diolah secara tradisional pula dengan menggunakan satu buah lesung besar dengan beberapa “anak Alu”. Selain itu merayaka pesta panen masyarakat juga membuat emping. Sambil membuat emping dengan menggunakan anak alu yang terdiri dari berbagai macam ukuran hingga menimbulkan nada-nada yang khas dan memberikan nada-nada yang indah tersendiri. Dari nada-nada tersebut terciptalah beberapa lagu. Lagu tidak dinyanyikan dengan suara penumbuk alu, melainkan suara yang timbuk dari hentakan alu dan lesung tersebut. Kesenian Alu sering dibawakan oleh tim kesenian dari Kecamatan Bunguran Timur laut. ***

ooo000ooo

Art of Alu (Pestle)

Formerly, rice harvest time was awaited moment and very enjoyable for community. Most of the crop were store at mow and the rest were traditionally processed by a large mortar and some pestles. The community also made “Emping” (GnetumGnemon Seed chip). The making of this chip also used dimples and some variety size of pestles so that created beautiful distinctive tones of its own. There were songs born from that. The song was created by the colliding sound of pestles and mortar instead of voice of pestle pounder. This art is often performed by art team of Northeast Bunguran district.***

Close Menu