Desa Pulau Tiga Tuan Rumah Pembukaan Muhibah Ramadan 1442 H.

Sore itu, Senin 17 April 2021 cuaca cukup cerah, langit berona kebiruan, ombak di selat yang memisahkan pulau Bunguran Besar dengan gugusan Pulau Tiga tampak tenang saat kapal pompong berukuran sedang membawa kami berlayar dengan lancar menyeberang dari Pelabuhan Selat Lampa menuju Tanjung Kumbik di Desa Pulau Tiga yang menjadi tuan rumah kegiatan pembukaan Muhibah Ramadan 1442 H. Tak lama setelah tiba di Desa Tanjung Kumbik, azan Ashar terdengar lalu kami bergegas menuju masjid. Sepanjang perjalanan menuju masjid tampak kesibukan masyarakat yang mempersiapkan rumahnya untuk pemondokan kafilah dari desa-desa peserta Muhibah Ramadhan. Kesibukan persiapan tampak pula di rumah kaum ibu yang berada tak jauh dari Masjid al-Hikmah Tanjung Kumbik, sementara itu di lokasi masjid telah tersusun rapi tenda dan kursi yang akan digunakan dalam rangkaian acara pembukaan Muhibah Ramadan 1442 H.

Sekira pukul 16.45 kami bergerak menuju Pelabuhan Tanjung Kumbik tempat penyambutan para kafilah yang datang dari desa-desa tetangga yang berada di pulau-pulau terdekat. Tampak grup kompang dan Kelompok Silat Karang Taruna Desa Pulau Tiga telah siap sedia menyambut kedatangan para tamu. Tak lama beselang, tibalah kedatangan kafilah pertama dari Desa Balai yang dipimpin oleh Mansyur, Kepala Desa Sabang Mawang Balai, kedatangan Kafilah pertama ini disambut langsung oleh Rozain, Kepala Desa Pulau Tiga dengan pengalungan bunga. Tabuhan gendang silat, lantunan talimpong, hentakan gong dan gerak lincah pesilat tampak harmonis menyambut kedatangan kafilah-kafilah hingga pukul 17.30, tidak ketinggalan pukulan kompang dan lantunan suara merdu penyanyi yang melantunkan lagu-lagu islami turut pula memeriahkan penyambutan tamu kafilah-kafilah dari desa-desa terdekat.

Sekitar pukul 17.30 kegiatan muhibah dilanjutkan dengan ceramah yang disampaikan oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Pulau Tiga, Dela Pulda, S.HI. Sesaat menjelang berbuka hadirin yang semula duduk di bawah tenda diarahkan menuju tempat masing-masing, laki-laki disilakan duduk di teras kiri dan kanan masjid sementara jamaah perempuan diarahkan menuju rumah kaum ibu. Setelah  melepas dahaga dengan berbuka puasa kegiatan dilanjutkan dengan salat Maghrib berjamaah dan selepas salat semua jamaah bergerak menuju pemondokan masing-masing untuk mencicipi hidangan yang telah disiapkan oleh tuan rumah. Sebagaimana lazimnya tradisi yang masih lestari di tengah masyarakat Natuna, makanan disajikan di dalam “dulang”, masing-masing dulang disiapkan untuk empat orang dan kami pun mencicipi tiap menu yang disajikan khususnya ikan bakar Kerisi Boli yang terkenal lezat dan menjadi andalan para nelayan tatkala melaut mencari rezeki di Laut Natuna Utara.

Tepat pukul 19.30 sesaat azan Isya berkumandang, kami segera menuju Masjid al-Hikmah untuk melaksanakan salat Isya berjamaah yang diimami oleh Imam Besar Masjid al-Hikmah Tanjung Kumbik, Habib Ismail al-Qodri, lalu dilanjutkan dengan salat sunnah tarawih berjamaah. Selepas tarawih, rangkaian kegiatan muhibah dilanjutkan dengan sambutan-sambutan yang diawali oleh Kepala Desa Pulau Tiga selaku tuan rumah. Dalam sambutannya Rozain berharap agar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dapat memfasilitasi upaya pelestarian dan pengembangan tradisi muhibah ramadhan ini, selain itu ia juga menuturkan bahwa kegiatan ini dapat dikemas dan dikembangkan lebih baik lagi hingga dapat menjadi daya tarik wisata, khususnya untuk wisatawan muslim lokal maupun mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam maupun negara-negara tetangga lainnya.

Menanggapi hal tersebut, di waktu terpisah Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, H.Hardinansyah, S.E, M.Si menyampaikan bahwa tradisi muhibah Ramadan ini dapat pula menyasar wisatawan nonmuslim. Hal itu dikarenakan rangkaian kegiatan mulai dengan kedatangan kafilah-kafilah yang datang dari pulau-pulau terdekat menggunakan pompong ataupun speed boat lalu disambut dengan berbagai pertunjukan budaya serta persiapan-persiapan panitia merupakan sebuah atraksi budaya yang mungkin saat ini hanya dapat dijumpai di Pulau Tiga dan Pulau Tiga Barat. Meskipun di masa yang lalu kegiatan ini juga dilaksanakan oleh wilayah-wilayah lainnya, namun saat ini masyarakat Pulau Tiga dan Pulau Tiga Barat masih tetap menjaga kelestarian tradisi ini dan berkembang semakin menarik. Tradisi muhibah ini dapat dijual sebagai paket wisata budaya secara luas, wisatawan nonmuslim tentu tidak mungkin mengikuti proses ibadah, namun mereka dapat menikmati pertunjukan budaya dan kuliner yang disediakan di tempat-tempat tertentu yang disiapkan oleh desa-desa penyelenggara. Sehingga hal itulah yang menurut Hardinansyah sebagai bentuk keterkaitan pariwisata dan budaya yang selalu bergerak dinamis.

Setelah sambutan Kepala Desa Pulau Tiga, sambutan dilanjutkan oleh Camat Pulau Tiga Barat, Idris, S.Sos dan dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan kafilah yang disampaikan oleh Zuldi, Kelapa Desa Tanjung Batang. Selepas sambutan perwakilan kafilah kegiatan dilanjutkan dengan ceramah agama oleh imam besar Masjid Agung Natuna, H. Tirtayasa, S.Ag. MA, C, NLP. Tampak Camat Pulau Tiga, Sudirman menyimak dengan saksama nasihat agama yang ringan namun sangat bermakna. Kegiatan dilanjutkan dengan tadarus al-Quran yang dibaca oleh para qori pilihan perwakilan dari tiap desa. Ada yang berbeda dengan pelaksaan tadarus kali ini, yang mana tadarus tersebut dinilai oleh para juri dan diakhir acara para qori terbaik 1, 2 dan 3 mendapatkan hadiah dari panitia. Penyerahan hadiah dilakukan oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Hadisun S.Ag yang hadir mewakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Dengan penyerahan hadiah sekitar pukul 24.00 WIB, maka berakhir pula rangkaian kegiatan pembukaan Muhibah Ramadan di Masjid al-Hikmah Desa Pulau Tiga, selanjutnya seluruh jamaah kembali ke pemondokan masing-masing untuk melanjutkan aktivitas dengan santap sahur bersama. Setelah sahur kami berkemas untuk kembali ke Kota Ranai dengan terlebih dahulu menyeberang ke Pelabuhan Selat Lampa menggunakan kapal pompong yang kesehariannya disebut oleh masayarakat Natuna sebagai mutur, demikian pula dengan kafilah lainnya yang sebahagian besar juga langsung kembali ke desa masing-masing dan mempersiapkan diri untuk kunjungan Muhibah Ramadan ke desa-desa lainnya selama 14 hari ke depan.(HD)