"WEBSITE RESMI DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN NATUNA"

Kadisparbud Natuna Hadiri Rakor Cross Border 2017 di Bali

Sejak dua tahun terakhir, Presiden Jokowi sangat konsen terhadap wilayah perbatasan. Di sana infrasturktur terus dikembangkan, selain juga pengembangan pembangunan multisektoral. Sektor pariwisata merupakan salah satu hal penting untuk membangun daerah perbatasan.

Karena ketika sektor pariwisata dikembangkan, maka sektor lain juga akan ikut berkembang, baik dari hulu sampai ke hilir. Salah satu yang perlu dikembangkan saat ini adalah “cross border tourism” atau wisata perbatasan. Hal tersebut diungkapkan Deputi Pemasaran Mancanegara Kementerian Pariwisata I Gde Pitana di sela-sela rapat koordinasi Cross Border di Kuta, Senin (14/8) .

Menurut Pitana, potensi cross border Indonesia sangat besar, karena garis perbatasan dengan negara lain sangat panjang. Bukan cuma untuk tourism, namun juga untuk meningkatkan citra bangsa serta kesejahteraan masyarkat di perbatasan.

Di beberapa negara seperti Malaysia sudah mulai mengembangkan cross border tourism. Bahkan di Negara Belanda sampai 60 persen wisatawan datang melalui cross border. “Di Malaysia cross border dari Indonesia hampir mencapai tiga juta wisatawan. Namun yang dari Malaysia ke Indonesia belum sampai sebanyak itu,” katanya.

Pitana menjelaskan, Indonesia saat ini mulai konsen mengembangkan program cross border. Bahkan untuk tahun 2017 ini ada sebanyak 217 kegiatan yang dilakukan bersama-sama di daerah perbatasan di 30 titik dan delapan wilayah.

Dengan pengembangan cross border ini, selain meningkatkan kunjungan juga akan meningkatkan kesejahteraan warga di perbatasan. “Dari 217 kegiatan yang diprogramkan, diharapkan bisa mendatangkan 3.146.000 wisatawan dari negara tetangga,” harapnya.

Melalui program yang sangat strategis ini, kata Pitana tidak hanya untuk mendatangkan wisatawan, namun juga kepentingan sektor lain. Menurutnya, perkembangan cross border di Indonesia meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu.

Yaitu dari 403.385 wisatawan tahun 2016, meningkat menjadi 857.954 tahun 2017. Meski pengembangan cross border terus dilakukan, pihaknya menyadari masih banyak kendala yang dialami. Seperti metode penghitungan wisman cross border, kebijakan imigrasi, kebijakan Polri, sistem penganggaran, regulasi perbatasan dan metode evaluasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Natuna H. Erson Gempa Afriandi saat ditemui di sela-sela rapat koordinasi mengatakan, untuk Kepulauan Natuna permasalahan yang dialami untuk mengembangkan pariwisata yaitu permasalahan akses transportasi udara.

Kendati demikian, di Kepulauan Natuna program Cross border seperti ini sangat berguna. Bahkan saat ini kunjungan wisata ke Natuna sudah mulai bergerak. “Selama ini, permasalahannya adalah transportasi atau penerbangan,” ujarnya.